Wednesday, February 08, 2006
Lagi-lagi sebuah perjumpaan, melanjutkan tulisan yang terakhir tentang pengarungan sungai Pekalen yang masih merupakan satu acara di Outbound. Ini pengalaman Rafting kedua-ku, setelah beberapa tahun yang lalu juga pernah melakukan kegiatan serupa, hanya saja sekarang bersama dengan orang-orang yang profesional mengelola olah raga sungai ini.
Dimulai dari base camp Songa Rafting, usai mengenakan perlengkapan untuk arung jeram seperti helm, pelampung, serta dayung paddle (type dayung untuk perorangan) kami yang berjumlah sekitar 100-an lebih di bawa dengan mobil bak terbuka menuju lokasi pemberangkatan yang berjarak kira-kira 9 kilometerdi daerah Desa Pesawahan, Kecamatan Tiris - Probolinggo. Sampai juga akhirnya di tempat pemberhentian terakhir setelah melewati beberapa Desa dengan jalan menanjak dan berkelok-kelok. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kira-kira 800 meter menuju bibir sungai, tempat pemberangkatan.
Sesampainya di lokasi pemberangkatan, terlihat sudah banyak rekan yang bersiap juga. Belasan perahu karet juga sudah nampak berjajar di pinggir sungai, tempat pemberangkatan yang memang sempit itu semakin terasa sempit karena ramainya peserta yang akan turun ke sungai. Hari ini arus sungai Pekalen yang bersumber dari pegunungan Argopuro dan Gunung Lamongan cukup deras, menurut salah satu kru dari Songa Rafting saat-saat seperti ini lah Sungai Pekalen paling bagus untuk di arungi. Air sungai terlihat keruh dengan riak dan busa putih tersebar disepanjang sungai,Pada musim hujan memang air Sungai Pekalen agak berwarna coklat keruh, ini karena selain berasal dari mata air pegunungan Argopuro sungai pekalen juga menjadi penampung buangan air hujan dari sepanjang daerah yang dilewatinya, oleh karena itu pada saat musim penghujan kewaspadaan harus ekstra untuk menghindari luapan air bah yang mungkin saja datang tiba-tiba.
Setelah sedikit pengarahan dan intruksi dari guide yang akan memandu, satu persatu perahu karet yang berisi tujuh orang mulai berangkat mengarungi derasnya arus Sungai Pekalen.
***
Dari lokasi pemberangkatan di Desa Pesawahan, jalur pengarungan akan melewati tiga kecamatan di Kabupaten Probolinggo, yakni; Tiris, Bremi, Condong dan setidaknya akan terdapat 33 jeram di jalur yang berjarak sekitar sembilan kilometer itu. Sungai Pekalen sendiri termasuk sungai yang memiliki grade II - III untuk tingkat kesulitan pengarungan sungai, ini setara dengan tingkat kesulitan di Sungai Citarik, Jawa Barat.
Perahu kamu mulai meluncur, tak lupa ritual untuk tos menggunakan paddle dengan cara menganggat jadi satu ujung paddle lalu memukulkan ke air secara bersama-sama seperti yang biasa dilakukan para rafter profesional juga kami lakukan. Dimulai dengan melintasi jeram pertama, jeram Selamat Datang. "Maju kanan," Seru kru Songa yang menjadi guide di perahu kami untuk menghindarkan perahu dari sebuah batu besar disisi kiri perahu.
Sepertinya semua perahu melintasi jeram pertama ini dengan selamat, tidak ada satupun perahu yang kesulitan, namu begitu melintasi jeram kedua kami harus bekerja ekstra keras untuk mengendalikan perahu, arus di jeram kedua ini semakin deras dengan batuan-batuan besar terlihat di sisi kiri sungai. Meskipun dengan nafas yang berkejaran kami melanjutkan pengarungan sungai dengan wajah tetap ceria dan penuh tawa, meskipun beberapa teguk air Sungai Pekalen sempat tertelan.
"Alam menyimpan segalanya, didalamnya ada; keindahan, kedamaian, kesejukan, keganasan, ketakutan bahkan kematian"
"Di alam, menghadapi situasi apapun kuncinya harus tenang". Tiba-tiba saja ujung depan perahu menabrak sebuah batu, dan tumbukan keras tak terelakkan sembari berusaha menstabilkan perahu yang cukup terguncang tubuhku malah terlempar keluar dari perahu. Sempat berusaha untuk menggapai tali di bibir perahu dengan ujung paddle tapi gagal. Rasa-rasanya arus sungai membawa tubuhku semakin jauh dari perahu, satu yang saat itu ada dipikiranku "Aku harus tenang", ya, seperti yang di sampaikan instruktur sebelum berangkat. Aku coba kuasai keadaan dengan mengatur posisi tubuhku mengikuti kemana arus sungai membawaku, satu - dua jeram terlewati sedangkan arus sungai masih sangat deras, percuma aku berusaha melepaskan diri. Beberapa teguk air sungai masuk lewat mulut dan hidung, rasanya sungguh-sunguh tak pernah terbayangkan sama sekali. Didepan kulihat pusaran air yang cukup besar, buih putihnya menandakan bahwa arus disana sangat kuat dan aku harus berusaha menghindarinya kalau tidak mau tergilas didalamnya. Ternyata usahaku untuk menghindari jeram itu sia-sia, arus sungai terlampau kuat menarikku, dan... Aku rasakan tubuhku masuk kedalam pusaran buih putih itu, masuk benar-benar masuk dan tergilas didalamnya, empat - lima detik masih aku di bawah pusaran, berusaha tetap tenang dan pasrah (pada saat seperti ini pasrah dan berserah diri menjadi sesuatu yang sangat mendamaikan), semakin banyak air sungai yang tertelan membuat perut semakin mual dan pada beberapa detik berikutnya aku rasakan tubuhku terangkat keatas, satu semburan air keluar dari mulut yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk dimuntahkan. Lega juga akhirnya bisa keluar dari pusaran air di jeram yang sebenarnya tak seberapa besar itu, sambil masih berusaha mengeluarkan sisa air yang tertelan mencoba untuk berenang ke pinggir sungai. Baru sadar kalau pinggiran sungai yang ternyata tebing-tebing batu bukan tempat yang tepat untuk di gapai akhirnya aku memutuskan untuk hanyut bersama arus sungai sambil mencari pinggiran sungai yang bisa aku raih. Dua jeram selanjutnya aku lewati dengan hanya berbekal helm dan pelampung serta dayung yang tidak berguna tapi coba untuk tetap aku pertahankan. Semakin banyak pula air yang tertelan masuk ke tubuhku, akhirnya sampai juga di sungai yang airnya cukup tenang tanpa tonjolan batu disana sini, sekuat tenaga aku coba untuk berenang ke tepian sungai, teriakan semangat rekan-rekan lainya dari atas perahu seolah menambah kekuatanku untuk segera sampai di tepi sungai yang memang kelihatan landai. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga sampailah juga di tepian sungai, istirahat sejenak sambil mencoba mengeluarkan sisa-sisa air tertelan.
Pengarungan dilanjutkan, perjalanan perahu dari jeram satu ke jeram berikutnya semakin pendek dengan kesulitan yang sangat bervariasi. Dari semua jeram yang akan dilalui, Jeram Good Blessmerupakan jeram yang paling berbahaya dengan tingkat kesulitan mendekati grade IV. Disitulah kami harus ekstra waspada karena kemungkinan perahu terbalik sangat besar, tapi untunglah kami memiliki guide yang handal yang tau benar seluk beluk sungai pekalen ini sehingga perahu kamu dengan selamat bisa melewati Jeram Good Bless. Ada yang unik dari nama-nama jeram yang ada di sepanjang Sungai Pekalen ini, mulai dari yang berdasarkan karakteristik sampai dengan nama yang diambil dari nama-nama pengarung jeram pernah melintasinya.
"Didepan kita akan melawati tiga jeram sekaligus, Jeram Kuda Liar, Kuda Binal dan Jeram Kuda Nil". Kata Mas Tono, guide dari Songa Rafting yang menahkodai perahu kami. "Kita akan melewati tiga jeram itu sekaligus tanpa ada kesempatan istirahat, siapkan diri sebaik mungkin dan ikuti intruksi", Lanjut Mas Tono dengan serius. Begitu terdengar aba-aba "dayung maju" kami semua serempak mengayunkan dayung kedepan menuju jeram pertama Jeram Kuda Liar. Jeram Kuda Liar, terlihat mengerikan dengan busa putih dan arus yang kuat disana-sini terlihat tonjolan batu sungai yang menambah riak air semakin besar, perahu kami seolah diguncang dengan hebatnya, selepas itu kami hanya bisa bernafas sejenak. Didepan jeram kedua sudah menanti, benar saja sesampainya di Jeram Kuda Binal kami seperti dihentak-hentakkan seekor kuda karena jalur yang menurun dan berjeram panjang.
Jeram-jeram lainnya adalah Mercury, Penantian, Rengganis, Lumba-lumba, Lorong, Delta. Di Jeram Lorong perahu benar-benar seperti memasuki sebuah lorong yang terbuat dari batu karang, jarak antara permukaan air dengan atap batuan hanya sekitar 50 cm kamipun terpaksa harus masuk ke tengah perahu untuk menghindar dari benturan dengan langit-langit batu. Ada sensai yang berbeda saat mengarungi setiap jeram yang ada.
Ditengah perjalanan kami menepikan perahu, untuk sekedar beristirahat, menikmati segarnya kelapa muda dan beberapa makanan kecil yang sudah tersedia. Waktu istirahat yang singkat cukuplah buat kami untuk berbagi cerita seputar pengarungan kami dengan rekan di perahu yang lain.
*****
Pengarungan sungaipun dilanjutkan kembali, kali ini jalur agak lebih bersahabat karena jarak antara satu jeram dengan jeram lainnya memiliki jarak yang cukup panjang. Pada beberapa lokasi kami sempat membuat beberapa atraksi dengan perahu kami, membuat perahu berputar-putar ditempat dengan saling mendayung maju dan mundur masing-masing kedua sisi perahu sampai kami berdiri melingkar diatas perahu sedanggkan guide yang menmani kami membuat gerakan mendayaung agar perahu bisa berputar-putar. Kesempatan lain juga digunakan oleh guide untuk membalikkan perahu, semua tercebur. Beberapa rekan yang tidak bisa berenang pada mulanya cukup panik, tetapi keberadaan pelampung yang melekat ditubuh kami mampu menahan berat badan untuk tidak tenggelam (menurut instruktur dari Songa Rafting, pelampung itu mampu menahan berat badan sampai 150-an kilogram) jadi bagi kami yang rata-rata berat badannya tidak lebih dari 70-an kilo masih dengan mudah mengapung.
Tak terasa hampir tiga jam perjalanan mengarungi Sungai Pekalen. Didepan terlihat beberapa bangunan kayu yang sangat kami kenal, ya... base camp Songa Rafting sudah terlihat didepan, ini berarti pengarungan ini akan berakhir karena memang titik finish dari jalur ini adalah base camp Songa Rafting di Desa Condong.
Oleh guide perahu kami diarahkan menepi, beberapa perahu yang lain terlihat sudah merapat dipinggir sungai. Terlihat wajah-wajah ceria dari beberapa rekan yang telah lebih dulu menyeleseikan jalur pengarungan. Sebelum turun dari perahu, terakhir kali kami lakukan tos dengan dayung, sambil bersyukur serempak pukulan ujung dayung ke air kami lakukan. Terima kasih Tuhan, hari ini telah Kau berikan pengalaman yang luar biasa.
Info & Reservasi :
Contact Person : Sdr. Bagus Tj
CDMA : (031)71453654, 91903224
GSM : 0817585446
Email : marketing_songa@yahoo.com
Jumat, 30 Januari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar